Home | Agro | Budidaya Cacing Yuuk

Budidaya Cacing Yuuk

Kelompok Perempuan di Dukuh Batilan, Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Klaten, selama satu tahun ini telah menggeluti budidaya cacing

Kelompok Perempuan di Dukuh Batilan, Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Klaten, selama satu tahun ini telah menggeluti budidaya cacing

DSC_1186
klatentv.com- Kelompok perempuan di Dukuh Batilan, Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Klaten, selama satu tahun ini telah menggeluti budidaya cacing. Kegiatan budiaya cacing ini dikoordinir Sriyanto alias Mas Peking, Kepala Dusun 3 Desa Krakitan.

Budidaya cacing ini, menjadi usaha menarik yang bisa menambah penghasilan. Sekitar 60 kepala keluarga (KK) di Dukuh Batilan dan puluhan perempuan di sekitar Dukuh Batilan ini, dengan senang hati mengembangkan budidaya cacing ini.
Sri Mulyani, salah satu pembudidaya cacing mengakui, keuntungan menekuni budidaya cacing ini sangat bagus, satu kilogramnya bisa dihargai Rp30 ribu untuk jenis cacing merah, cacing kristal dihargai Rp 45 ribu, cacing silver Rp 50 ribu dan cacing Australia sampai Rp 75 ribu per kilogramnya.

“Kebanyakan ibu-ibu yang menekuni usaha budidaya cacing ini, suami mereka banyak tertekan ekonominya dan dengan adanya usaha ini, bisa menumbuhkan semangat perempuan untuk berkarya. Kalau tak untung, mana mungkin usaha budidaya cacing ini bisa semakin maju,” ujar Sri Mulyani.

Dari keterangan Mas Peking, ada empat kelompok budidaya cacing ini yang selama ini intens dikembangkan, yaitu kelompok budidaya cacing yang dikelola Bapak-bapak dengan nama kelompok Karya Arta dengan ketua Slamet (67 th).

Lalu ada kelompok Ngudi Bugo dengan ketuanya Sri Mulyani, Ngudi Arto dengan ketua Indaryani dan kelompok Ngasem Batangsari. Empat kelompok budidaya cacing ini rata-rata membudidayakan jenis cacing merah dan untuk cacing jenis silver dan australia, sangat jarang.

“Kalau panen, biasanya 15 hari sekali dan per kilogramnya untuk jenis cacing merah harganya Rp30 ribu. Untuk makanan cacingnya dibuat dengan sederhana dari limbah setempat, seperti enceng gondok di Rowo Jombor, serabut pohon aren, buah semangkak, nasi, dan lainnya. Musuh cacing selama ini ada ayam dan tikus, maka jauhkan dari ayam dan tikus,” ujar Mas Peking.

Sementara Mas Joko Sutriyatno, salah satu tim pemasaran cacing, mengaku masih mengalami kendala. Harapannya, pembaca koran ini yang tertarik, bisa membantu dan ikut mencarikan link terkait pemasaran, sehingga warga juga tidak pusing untuk membuang cacing yang sudah dipanen.

“Biasanya cacing ini untuk bahan memancing, sentrat makan ayam pedaging, untuk obat sakit tipes akut, sakit maag akut dan lainnya. Cacing ini memang banyak khasiatnya,” ujar Joko Sutriyatno.

Leave a Reply