MELEWATI DERITA MALAM NAN PANJANG BERSAMA OMICRON

Ijin berbagi kisah ..
Saya sudah seminggu tak bersapa dan bercanda dengan kawan ini .. WA tdk dibalas .. telp tidak diangkat .. yg saya tahu dia ada rencana pulang ke Pulau Samosir .. mungkin gak ada sinyal telp … dan baru hari ini bercerita .. ternyata terpapar omicron …

Hari ini Feb/7, persis hari ke 8, saya terpapar Covid varian Omicron (hasil PCR – ORF 1 ab Gene 26,426). Kok bisa tahu itu varian Omicron? Dari ciri khasnya yaitu masa inkubasi cepat, daya sebar tinggi dan nyerang tenggorokan.
 
Dari berbagai cerita2 di medsos, katanya mereka yg terpapar Omicron relatif tdk berbahaya, rasanya seperti flu biasa saja, pokok nya tdk terlalu mengkhwatirkan lah. Intinya, take it easy. Mungkin. Saya kurang tahu apakah mereka yang cerita itu benar2 pernah mengalami terpapar Omicron atau cuma dengar2 saja dia?? Bukti nya saya terpapar dan rasanya tdk biasa saja, tapi malah saya sangat menderita.
 
Kisah ini, mulai Kamis malam (jan/27), saya mulai merasa meriang,  saya pikir biasa saja, karena pagi sampi siangnya, kebetulan habis golf panas2 an. Abis golf, makan siang ama teman, semua di tempat terbuka. Dari makan siang, masuk mobil keluar mobil, nyelesaikan urusan (panas-dingin-panas silih berganti), dan baru balik rumah sore. Emang hari itu lumayan panas bingit diluar rumah. Saat kita terpapar, kita akan otomatis tanya, saya kena dimana ya? Sekarang hal itu  sudah menjadi tidak penting lagi buat saya, kena ya kena saja, bisa dimana saja. Kebetulan sehari sebelumnya saya berenang, bisa saja saat berenang itu, ketelan air kolam.😭
 
Jumat (Jan/28),  walau tetap rada anget, ama istri, saya seharian masih keluar rumah nyelesaikan kerjaan dikit. Antar dan ttd  kontrak ke salah satu vendor, nyari dodol garut  piknik pesanan di 3 super market, eh, dilala kosong semua jadi gak dapat. Ini kelihatan nya pertanda awal.
 
Malam nya hrsnya saya  jadwal antigen di RS dekat ramah. Sdh diingatin anak. Tapi besok pagi sajalah go show dibandara sekalian berangkat, jadi gak bolak-balik, pikir saya,  karena sabtu paginya toh kebandara juga (jam pesawat kami ke medan jam 07.00). Tiket PP sdh dibeli utk kami bertiga (saya dan 2 anak saya).
Saya harus ke Medan krn kebetulan ada  undangan peresmian gedung paroki di kampung saya yang akan diresmikan bpk Uskup KAM, jadi sekalian saya ajak anak2 bisa nyekar makam kakek & neneknya, juga karena tgl 2 Feb, ada pelantikan pengda SUMUT organisasi kami di Medan, ibarat kata, sekali mendayung 2-3 pulau terlampaui.
 
Malam itu memang kok  semakin terasa makin demam, rada cemas juga, tapi masih gak parah. Malamnya minum decolgin 2 biji, bisa tidur nyenyak.
 
Sabtu pagi (Jan/29) sekitar jam 4.30 am, sdh siap2 berangkat ke Bandara T2 Jkt.  Jam 05.10 kami tiba di T2, langsung ke area test antigen di pintu 1. Setelah registrasi, sekitar 6 menit sdh dipanggil utk di  test.  Sampai sini lancar2 saja,  Saat penyerahan hasil, kedua anak saya aman alias negatif. Tapi hasil antigen saya yang Positip. WHAT???, pandangan mulai berkunang2 karena  membanyangkan sermua acara selama 4 hari kedepan di Medan yg sdh disusun bersama anak2, gagal berantakan  yang jelas saya gak bisa terbang. Anak2 juga gak mungkin berangkat tanpa saya.
 
Saat itu juga langsung saya putuskan utk PCR di lab bandara itu utk memperoleh detail ke terpaparan saya. Tapi hasilnya max 6 jam kemudian. Waktu berjalan dgn cepat. Saat lapor ke airline utk batal, crew di counter info, kalau coba second opinion ada lab internal airline tsb, lebih murah hanya rada jauh krn diluar area parkir. Tapi bisa jalan kok. Msh ada waktu 38 menit. WHY NOT? pikirku. Saya buru2 ke lokasi yg dimaksud.  Pendek cerita, hasil antigen dilokasi tsb ternyata juga POSITIF. Lemassss semua persendian saat kami ber 3 akhirnya pulang ke rumah, gak jadi terbang.(What was going wrong pikirku sepanjang jalan pulang)😭…
 
Cerita diatas adalah prolog utk bisa mengikuti rentetan derita 4 malam ku nan berat berikutnya…
 
Sesampai di rumah (sdh jam 9 lebih), sambil menunggu hasil PCR yang paling cepat keluar sekitar jam 14.00 an,  saya mencoba merangkai langkah pengobatan yang perlu saya lakukan.
 
Saya menghubungi layanan Isoman Kemenkes melalui channel yg disediakan yaitu hallodoc, alodoc dll. Berhasil konsultasi dgn dokter secara online di janjikan obat isoman dikirim ke rumah paling lambat 2×24 jam Lumayan lega dikit. Saat itu stuasi memang kurang mendukung pertama krn hari Sabtu, kedua hasil PCR belon ada jadi mau konsul ke dokter juga belon pas waktunya krn nanti bisa disuruh PCR lagi. Jadi jalan terbaik nunggu dan konsul online.
 
Sampai malam hari,  obat belon dpt, hsl pcr belon keluar.  Serba nunggu gak karuan.
 
Batuk semakin berat, berdahak, napas dan ngomong dikit batuk nya langsung  bertalu- talu dan dahaknya itu lho gak kuat, banyak sekali. Heran dari mana saja itu dahak sampai bisa seberlimpah itu. Pokoknya malam itu mulailah malam panjang (H1) penuh derita bagi saya. Tidak bisa tidur krn batuk terus, tenggorokan perih dan gak bisa nelan.
 
Minggu siang (H2) sdh berhasil memperoleh resep digital utk obat covid. Dan diminta tunggu saja max 1×24 jam obat akan dikirim kerumah.  Malamnya, obat tak kunjung datang,  derita malam ke 2 terlalui dgn derita batuk dan berlimpahnya dahak. Malam ke dua gak bisa tidur.
 
Senin pagi, berharap bahwa obat isoman akan datang at least sore atau malamnya, ternyata gagal,  kurang jelas dimana bottle neck nya.
Coba minta bantuan teman dokter yang bisa kasih resep obat covid, ternyata tdk mudah.
 
Malamnya sdh kebayang akan melewati malam nan panjang (H3) dgn dentuman batuk dan lautan dahak tak berkesudahan, tdk bertepi.
 
H4. Selasa, krn hari raya imlek, relatif pergerakan sgt terbatas, klinik RS utk umum juga gak buka, mau ke IGD, utk pasien covid dianjurkan ke puskesmas dan klinik umum tapi krn hari libur, rada susah kondisinya, tapi sdh dapat obat batuk dari teman dokter. sekali lagi, malamnya berlalu dgn edisi derita batuk dan dahak… persis 4 malam sudah saya lalui dgn batuk dan dahak, tanpa bisa tidur. Selama itu pula selalu saya bertanya: kenapa saya bisa semenderita ini? Katanya Omicron gak berbahaya? Tapi mana?? PHP semua itu medsos.
 
H5. Selasa pagi jam 05.00 saya dan istri sdh bergegas ke salah satu RS, rencana mau ke IGD utk penanganan tahap1. Tetapi kami diarahkan ke klink ISPA yang ternyata baru buka jam 8 pagi, tapi registrasi jam 7 an sdh buka. Dari pada bolak-balik, kami putuskan nunggu saja, paling cuma nunggu 1,5 jam. tak apalah. Singkat cerito, jam 08.15 saya dapat antrian pertama utk periksa dokter ISPAnya.
 
Setelah periksa dan pencet sana-sini, dokternya bilang, kita hrs periksa darah lengkap dan rotgen bpk spy bisa terlihat kenapa bpk bisa separah ini.  Deal. Jawabku. Selanjutnya adalah edisi periksa darah dan rotgen. Yang lama adalah nunggu hasilnya, hampir 2 jam lebih. Waduuh, lama sekali? Jaman digital gini,  bukannya harusnya cukup 30 menit saja? Tapi tak tahulah, kelihatannya peralatan medis RS kurang canggih utk kedua alat pemerikasaan tsb. Jalanin saja.
 
Saat hasil darah dan rotgen keluar, sdh hampir jam 11.00. Saat dokter lihat hasilnya, dia bilang, hasil rotgen bapak bagus, darah overall bagus, hanya ada 1 point yang sedikit fatal. Apa itu? Tingkat radang di tenggorokan saya sangat tinggi. Skala normal biasanya diangka 10, tapi saya diangka 90. Artinya apa dok?? Saya mencoba menggali. Ya itu,  tingkat radang di tenggorokan bapak sangat tinggi yang mengakibatkan batuk berat dan dahak terus. Karenanya, apapun yang lewat tenggorokan bapak akan terasa sangat sakit. Oohh, pantas saja 4 malam terakhir itu saya sangat menderita. Tapi gak usah khwatir, nanti dikasih obat yang bagus supaya cepat reda. Syukurlah, batinku. Iseng saya tanya dokternya, kenapa tingkat keterpaparan saya bisa parah begini? Dokternya malah bilang untung bapak sdh booster, kalau belon, can be worse.
 
Setelah konsul dan resep dikasih rasanya pengin buru-buru pulang ke rumah, minum obat dan tidur, tetapi ternyata belon secepat itu, nunggu obatnya sampai bisa diambil butuh 2 jam lagi, waduhh , kenapa tdk effisien gini procesnya? Akhirnya setelah hampir  jam 14.00 baru lah obat  bisa diambil, dan selama masa penantian tsb, saya coba tiduran di mobil, walau gak bisa juga. Kasihan istri nunggu berjam-jam gitu hanya utk nunggu obat… memang benar kata orang, orang sakit itu tdk punya hak utk protes, jalanin saja.. padahal semua proses dari pagi sampai obat keluar butuh 7 jam dan lumayan mahal juga.. Ibarat naik pesawat itu sdh waktu tempuh Jkt/Shanghai..
 
Sesampai di rumah, mulai lah memakan obat yg diberikan khususnya obat tenggerokan. Lumayan tokcer. Puji Tuhan, syukur alhamdulilah, malamnya saya sdh mulai bisa tidur, batuk dan dahak sdh berkurang banyak, tetapi krn batuk dan tenggoroka  sdh terlanjur berat, sampai hari ini batuk masih ada tapi sdh menuju ke pemulihan.. Semoga dihari-hari berikutnya proses pemulihan ini cepat berjalan.
 
Oh, iya 2 hari kemudian kedua anak saya akhirnya kena omicron juga. Tapi Puji Tuhan karena mereka masih muda, relatif daya tangkal tubuh mereka lebih kuat sehingga tdk mengalami derita separah saya. Untung juga mereka sudah vaksin 2X.
 
Dari pengalaman dengan omicron ini, ada 3 pesan penting yang mungkin perlu kita sadari, pertama, jangan gampang percaya bahwa Omicron itu tidak berbahaya, sangat tergantung tingkat imun dan kesehatan pribadi masing2, khususnya bagi kaum lansia, intinya, jangan sampai kena,  kedua jangan nunggu utk segera konsul ke dokter khususnya dokter THT atau IPSA. Omicron itu paling banyak nyerang tenggorokan, ketiga jangan lengah atau anggap enteng, dimana saja dan kapan saja bisa kena, jalan terbaik, tetap prokes, discipline dan pake masker. Mencegah jauh lebih baik dari pada mengobati. (Salam, risto samosir Feb/7)