Home | SuaraPembaca | Wong Solo Menyebutnya Wedangan, Jogja Punya Angkringan.

Wong Solo Menyebutnya Wedangan, Jogja Punya Angkringan.

wedangan apa angkringan?
Keduanya kini sudah mengalami beberapa inovasi, dari konsep wedangan menjadi resto.
Warung kecil dengan remang-remang penerangan ini telah bermetamorfosis diri menjadi warung mewah tanpa meninggalkan kekhasannya. Ya, budaya jagongan hingga larut malam. Mengapa keberadaan angkringan selalu ramai?

Jawabannya, karena orang yang datang tidak melulu membeli makanan, tetapi juga membeli suasana. Tempat nongkrong yang nyaman, teman-teman kongkow yang menghibur, dan topik pembicaraan yang menggugah selera menjadi alasan mereka mendatangi angkringan atau wedangan.

Belum lagi harga makanan yang sangat murah dan terjangkau, bisa menjadi teman ngeteh atau ngopi. Sambil berbincang tentang kehidupan. Lalu lalang ramainya kendaraan menambah hangat suasana yang semakin larut berbalut dingin. Ini juga sebuah kearifan lokal, meski sisi lain aroma kejelataan itu nampak…hiraukan itu karena hanya variable.

Kadangkala inspirasi terbetik dari riuhnya canda tawa para penikmat nasi kucing ini. Mereka asik masyuk bertitah dengan berbagai views-nya masing-masing, tentang helat dongeng sebuah negeri hingga lupa waktu. Dari perkara politik hingga bicara adegan syur Gisell yang sedang ramai diperbincangkan. Inilah spirit orang jawa sesungguhnya. Jagongan… Tidak ada jagongan yang berakhir sentimen pribadi apalagi gelut.
Sesuai makna wedang itu sendiri Ngawe-awe kadang.

Di sana hanya ada sajian wacana yang kaya akan sudut pandang tanpa klaim pembenaran atas view-nya sendiri. Lebih asiknya, sruputan kopi susu atau wedang jahe memecah kekhidmadan perbincangan atas topik yang coba diurai.

Di wedangan atau juga dinamakan warung HIK (Hidangan Istimewa Kampung), semua boleh berhujjah. Tanpa lupa sambil nyemil sate tusuk atau telur puyuh bacemnya, tahu tempe bakarnya, Jika sudah berada di tempat ini yang datang jalan kaki dengan yang menunggang gajah tak ada beda.

Disini, idealisme membuncah. Kaum grassroot bebas mengevaluasi kinerja punggawa tanpa takut terjerat UU. Kecuali jika ada buzzer ndesa yang menyusup atau sedang singgah karena kelaparan di jalan, beda ceritanya.

Di angkringan, lahir teori kritis baru bermunculan. Tesis antitesis bertebaran membentuk sintesis-sintesis yang menguatkan penemuan. Mulai dari teori keberpihakan bantuan tunai, teori covid , ataupun politik konspirasi para globalis dunia hingga teori sambel bandeng yang keasinan. Semua teori itu lahir dari tawa renyah yang mereka sebut Loss Doll. Ya,… setidaknya di angkringan mereka menjadi jiwa-jiwa merdeka bersama hisapan berbatang-batang rokok. Meskipun setelahnya mereka kembali ke rumah, bersiap menghadapi fakta hari esok yang tak sebercanda teori-teori mereka semalam. Ha ha ha…….

Imajiinatip yang jujur, meski bersifat fiksi yang tidak mungkin dibuktikan…namun yang terpenting mengandung nilai kewarasan.
Berwacana ria di angkringan atau diwedangan , berngeteh ria, ngopi, nyusu maupun jahe hingga larut malam, Obrolan yang bebas merdeka tanpa sekat dan batas juga mengandung optimisme yang tinggal selangkah didepan mata alias “Koyo hiyak hiyako”…benar-benar Lepas dan Merdeka dari keterbelengguan kepahitan hidup, dan panggung wedangan itu tersaji atraksi akrobatik yang menenangkan pikir, anti analgesik dan bersifat bius….
Jelang sepertiga malam yang akhir perlahan berjalan pulang, seketika kegembiraan itu terhempas, karna esok hari adalah dua hari terakhir tutup tahun, sedang angsuran Bank menanti, angsuran leasing mengantri…
Tak tahu lagi mengapa ini terjadi,..oh angin khabarkan rinduku ini, rindu setengah mati pada epos kebesaran negri…

Source: arikscenter.blogspot.com

Leave a Reply