KLATEN, KLATENTV.COM – Kesiapsiagaan menghadapi ancaman erupsi Gunung Merapi terus diperkuat di wilayah Kabupaten Klaten. Ratusan warga dan wisatawan mengikuti simulasi penyelamatan serta evakuasi mandiri di kawasan Ekowisata Kalitalang, Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, dengan memanfaatkan sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS).
Suara sirene peringatan menjadi penanda dimulainya skenario evakuasi. Warga dan wisatawan bergerak tertib menuju Tempat Evakuasi Sementara (TES) di Balai Desa Balerante. Kegiatan ini diselenggarakan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Klaten dalam rangka Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB).
Simulasi diawali dengan skenario penyelamatan seorang wisatawan yang terperosok ke jurang di lereng Merapi. Setelah proses penyelamatan berlangsung, sirene EWS berbunyi sebagai simulasi peringatan peningkatan ancaman hingga status Level IV atau Awas. Peserta kemudian mempraktikkan prosedur evakuasi sesuai jalur yang telah ditentukan.
Perlu ditegaskan, bunyi sirene dalam kegiatan tersebut merupakan bagian dari skenario latihan, bukan dengan sendirinya penanda bahwa status Gunung Merapi saat ini berada pada Level IV.
Aktivitas Merapi Jadi Pengingat Pentingnya Kesiapsiagaan
Latihan ini menjadi penting mengingat kawasan lereng Merapi memiliki potensi bahaya vulkanik yang dapat mengancam keselamatan masyarakat maupun wisatawan. Potensi bahaya tersebut meliputi awan panas guguran, guguran lava, lontaran material vulkanik di sekitar kawah, serta banjir lahar ketika material vulkanik terbawa aliran sungai saat hujan.
Aktivitas Merapi yang perlu terus dipantau antara lain pertumbuhan dan guguran kubah lava, guguran lava yang meluncur mengikuti lembah sungai, serta potensi awan panas guguran. Perubahan aktivitas tersebut dapat memengaruhi tingkat ancaman dan rekomendasi keselamatan bagi masyarakat di kawasan rawan bencana.
Bagi warga Balerante dan desa-desa lain di lereng Merapi, kesiapsiagaan tidak cukup hanya mengandalkan informasi ketika terjadi peningkatan aktivitas gunung. Masyarakat perlu memahami tanda peringatan, jalur evakuasi, titik kumpul, dan prosedur penyelamatan sejak kondisi masih terkendali.
Informasi aktivitas dan rekomendasi kawasan bahaya harus selalu mengacu pada laporan resmi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG). Masyarakat juga perlu memperhatikan arahan BPBD serta pemerintah setempat, khususnya ketika terjadi perubahan tingkat aktivitas Merapi.
Warga Diminta Tidak Bergantung pada Kedatangan Tim Penyelamat
Kepala Pelaksana BPBD Klaten, Syahruna, menegaskan pentingnya kemampuan masyarakat melakukan penyelamatan dan evakuasi secara mandiri, terutama bagi warga yang tinggal di Kawasan Rawan Bencana (KRB) III.
Menurutnya, perjalanan tim penyelamat dari pusat Kota Klaten menuju kawasan lereng Merapi membutuhkan waktu sekitar satu jam. Sementara itu, dalam kondisi tertentu, ancaman erupsi dapat berkembang dengan cepat sehingga masyarakat tidak selalu memiliki waktu untuk menunggu bantuan datang.
Karena itu, langkah penyelamatan awal, pemahaman jalur evakuasi, serta kepatuhan terhadap peringatan resmi menjadi faktor penting untuk mengurangi risiko jatuhnya korban jiwa.
Simulasi terpadu tersebut juga bertujuan memastikan setiap unsur memahami pembagian tugas ketika keadaan darurat terjadi. Koordinasi antara masyarakat, relawan, aparat desa, dan petugas kebencanaan diharapkan dapat mempercepat proses evakuasi sekaligus mencegah kepanikan.
Tas Siaga Bencana Menjadi Kebiasaan Warga Balerante
Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo, turut mengapresiasi pelaksanaan simulasi tersebut. Menurutnya, latihan bersama diperlukan agar setiap unsur memahami tugas, mekanisme koordinasi, serta rute penyelamatan ketika menghadapi keadaan darurat.
Kesiapsiagaan menghadapi Merapi juga telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Balerante. Pengalaman erupsi Merapi pada 2010 mendorong warga membangun kebiasaan menyiapkan tas siaga bencana di masing-masing keluarga.
Tas tersebut berisi kebutuhan penting, termasuk dokumen pribadi dan surat-surat berharga, yang dapat segera dibawa ketika evakuasi harus dilakukan. Kebiasaan ini menjadi salah satu bentuk kesiapan menghadapi situasi darurat tanpa harus membuang waktu untuk mengumpulkan barang-barang penting.
Melalui simulasi dalam momentum Bulan Pengurangan Risiko Bencana, BPBD Klaten berharap kesadaran masyarakat terhadap ancaman Merapi semakin meningkat. Kesiapsiagaan bukan hanya tanggung jawab pemerintah dan petugas penyelamat, melainkan juga membutuhkan partisipasi aktif masyarakat serta pengunjung kawasan wisata.
Di tengah dinamika aktivitas Gunung Merapi, pemahaman terhadap peringatan dini, kesiapan keluarga, dan kedisiplinan mengikuti arahan petugas menjadi langkah penting untuk melindungi keselamatan bersama.











