Kota(klatentv.com)— Kegiatan sosialisasi Paguyuban Warung Kelontong Madura di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, pada Senin (4/11/2025) sempat diwarnai ketegangan. Sejumlah pemilik warung menolak bergabung dan menolak aturan jarak antarwarung yang menjadi salah satu ketentuan dalam legalitas paguyuban tersebut.
https://youtu.be/OGD9NSRnI1A?si=fWDFde9FHtD2l9Pd
Situasi serupa juga muncul di Desa Basin, Kecamatan Kebonarum. Pemilik warung di wilayah tersebut menolak kegiatan sosialisasi dan peliputan media. Saat dimintai keterangan, yang bersangkutan enggan memberikan penjelasan terkait penolakannya.
Sementara itu, sosialisasi di Desa Tegalyoso, Kecamatan Klaten Tengah, berlangsung lebih kondusif. Penjaga salah satu warung, Naura, menilai keberadaan paguyuban memiliki sisi positif dan negatif. Ia mengaku belum mengetahui secara rinci aturan jarak antarwarung yang menjadi salah satu ketentuan paguyuban.
“Saya baru tahu kalau ada aturan jarak antarwarung. Tapi kalau tujuannya baik untuk mengatur agar usaha tetap berjalan adil, mungkin bisa dipertimbangkan,” ujar Naura.
Terpisah, Ketua Paguyuban Warung Kelontong Madura Klaten, Andi Priyo Sabarno, menyampaikan bahwa mayoritas pemilik warung justru menyambut baik keberadaan paguyuban yang kini bernama Tretan Kelontong Madura Klaten. Menurutnya, sosialisasi yang dilakukan bertujuan memperkenalkan struktur dan legalitas organisasi kepada para anggota maupun calon anggota.
“Kami ingin semua pemilik warung Madura di Klaten memiliki wadah resmi untuk berkoordinasi dan berkomunikasi, agar tidak ada persaingan tidak sehat,” ujar Andi Priyo.
Dalam kesempatan tersebut, pengurus paguyuban juga menyerahkan sejumlah berkas legalitas, seperti nomor Administrasi Hukum Umum (AHU) dari Kementerian Hukum dan HAM, Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), serta Surat Keterangan Terdaftar (SKT) dari Dinas Kesbangpol Kabupaten Klaten. Selain itu, pengurus juga mulai memasang stiker dan lambang resmi paguyuban sebagai tanda keanggotaan.
Meskipun sempat terjadi gesekan, kegiatan sosialisasi secara umum berjalan lancar di sebagian besar titik. Pengurus berharap keberadaan paguyuban dapat menjadi wadah persatuan dan penguatan ekonomi bagi para pemilik warung kelontong Madura di Klaten. (Marc/Klaten)










