Festival Mbok Sri Delanggu Angkat Tradisi Agraris dan Dorong Hilirisasi Rojolele Srinuk-Srinar

Delanggu(klatentv.com)– Festival Mbok Sri Delanggu kembali digelar selama tiga hari, Jumat hingga Minggu (25–27 September 2026). Memasuki penyelenggaraan ke-9, festival tahunan tersebut tidak hanya menjadi ruang pelestarian tradisi agraris, tetapi juga menjadi wadah untuk menyuarakan berbagai persoalan pertanian, termasuk dorongan hilirisasi beras Rojolele Srinuk dan Srinar.

Puncak Festival Mbok Sri digelar pada Minggu (27/9/2026) melalui Kirab Mbok Sri dan ritual wiwitan. Prosesi kirab berlangsung dengan mengelilingi jalan di antara area persawahan Desa Delanggu sejauh sekitar satu kilometer.

Iring-iringan kirab membawa gunungan hasil bumi berupa aneka sayuran dan gabah. Di belakangnya, kereta kuda membawa peraga Mbok Sri sebagai simbol Dewi Sri yang dalam tradisi masyarakat agraris dimaknai sebagai representasi kesuburan dan kesejahteraan.

Di tengah perjalanan, rombongan berhenti di area persawahan yang memasuki masa panen. Ritual wiwitan kemudian dilakukan dengan peraga Mbok Sri turun dari kencana dan menerima sejumlah uba rampe, termasuk potongan padi hasil panen.

Setelah prosesi ritual selesai, masyarakat menikmati nasi wiwit dalam suasana kebersamaan di tepi persawahan. Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo bersama sejumlah pejabat Pemerintah Kabupaten Klaten turut mengikuti tradisi kembul bujono atau makan bersama di tengah sawah.

Angkat Persoalan Pertanian dan Kehidupan Masyarakat Agraris

Festival Mbok Sri tidak hanya diisi dengan tradisi. Selama dua hari sebelumnya, berbagai kegiatan digelar, mulai dari pertunjukan seni, kuliner, diskusi pertanian, pemutaran film dokumenter hasil residensi, hingga Pasar Mbok Sri.

Diskusi mengenai kondisi pertanian kekinian, khususnya di Delanggu dan wilayah sekitarnya, menjadi salah satu agenda utama festival.

Rangkaian kegiatan juga dimeriahkan event lari bertajuk Loopen de Delanggu. Para peserta diajak menyusuri area persawahan sekaligus bangunan peninggalan era kolonial di Desa Delanggu.

Menariknya, peserta yang datang dari berbagai daerah tersebut ditantang membawa beras seberat lima kilogram sepanjang rute lima kilometer.

Kegiatan itu sekaligus menjadi cara untuk mengenalkan kehidupan masyarakat agraris dan berbagai potensi sejarah serta budaya yang ada di Delanggu.

Festival Mbok Sri diselenggarakan Sanggar Rojolele dengan melibatkan dan berkolaborasi bersama berbagai pihak.

Dorong Raperda Hilirisasi Rojolele Srinuk dan Srinar

Penggagas Festival Mbok Sri, Eksan, mengatakan festival tersebut dari tahun ke tahun diharapkan menjadi ruang bagi petani dan masyarakat Delanggu untuk menyampaikan berbagai persoalan pertanian.

Menurutnya, festival dapat menjadi sarana untuk mengangkat isu pertanian di Delanggu dan Kabupaten Klaten agar mendapat perhatian lebih luas.

Salah satu isu yang terus didorong adalah perlunya kebijakan yang dapat mendukung hilirisasi beras Rojolele Srinuk dan Srinar.

“Salah satunya yang paling menonjol dari Delanggu, isu pertanian yang coba kami angkat adalah tentang upaya mendorong Pemkab Klaten melahirkan kebijakan untuk melindungi upaya hilirisasi beras Rojolele yang di pasar hari ini Rojolele belum mendapat perlindungan lebih dari kebijakan-kebijakan atau regulasi di Kabupaten Klaten,” ujar Eksan.

Eksan berharap Pemerintah Kabupaten Klaten, DPRD Kabupaten Klaten, komunitas, serta organisasi petani dapat duduk bersama membahas rancangan peraturan daerah atau Raperda Hilirisasi Rojolele Srinuk dan Srinar.

Rojolele Srinuk dan Srinar merupakan varietas padi unggulan yang dikembangkan di Klaten melalui kerja sama pemerintah daerah dan BATAN. Dalam pengembangannya, varietas tersebut diarahkan untuk ditanam di wilayah Klaten.

Eksan mengatakan, hingga kini masih terdapat persoalan yang dihadapi petani dan pelaku usaha dalam proses hilirisasi Rojolele.

“Saat ini belum ada regulasi kebijakan yang menjadi tumpuan petani produsen padi Rojolele maupun produsen beras Rojolele dalam menghilirisasinya,” katanya.

Menurut Eksan, beras Rojolele memiliki karakteristik khusus karena berkaitan dengan asal wilayah produksi dan pengembangan varietas lokal.

Ia menyebut kelompok petani padi Rojolele dan Agrotechno Park Kabupaten Klaten memandang Rojolele memiliki karakter berbeda dibandingkan beras umum.

“Di tengah jalan kami upaya menghilirisasi, kami menemukan kendala-kendala bahwasanya Rojolele ini ditekan dengan HET beras umum, sedangkan jaringan petani di Delanggu dan Kabupaten Klaten yang tergabung dalam paguyuban petani padi Rojolele dan Agrotechno Park Kabupaten Klaten menganggap beras Rojolele ini bukan beras umum,” ujar Eksan.

Ia menambahkan, Rojolele dinilai memiliki kekhususan karena dikembangkan sebagai varietas yang berkaitan dengan wilayah Klaten dan memiliki akar pada padi lokal Rojolele.

Dewi Sri Jadi Simbol Utama Festival

Eksan menjelaskan, rangkaian Festival Mbok Sri dimulai pada Jumat dengan ritual pingitan Dewi Sri yang menjadi ikon utama festival.

Prosesi diawali dengan memasukkan Dewi Sri ke dalam sentong di Sanggar Rojolele.

Kemudian pada Sabtu (26/9/2026), digelar ritual mapak Mbok Sri. Puncaknya berlangsung pada Minggu melalui kirab yang membawa peraga Dewi Sri mengelilingi area persawahan dan dilanjutkan dengan ritual wiwitan.

“Setelah itu, Dewi Sri kembali hadir di panggung mengucapkan salam perpisahan kepada masyarakat petani Delanggu untuk kembali berjumpa di bulan September tahun depan,” kata Eksan.

Bupati Klaten Tekankan Perlindungan Lahan Pertanian

Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo mengapresiasi penyelenggaraan Festival Mbok Sri yang dinilainya sarat dengan nilai tradisi dan pesan mengenai hubungan manusia dengan alam.

Menurut Hamenang, tradisi wiwitan mengingatkan masyarakat bahwa hasil pertanian tidak terlepas dari peran alam yang harus dijaga.

“Tradisi wiwitan mengingatkan semua bagaimana kita untuk menikmati hasil, harus membersamai alam,” ujar Hamenang.

Hamenang menegaskan sektor pertanian di Kabupaten Klaten harus terus dipertahankan. Salah satu tantangan yang dihadapi adalah ancaman alih fungsi lahan pertanian.

Pemkab Klaten, kata dia, berupaya memberikan perlindungan melalui penetapan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B).

“LP2B sebesar 87 persen harus dipertahankan,” tegas Hamenang.

Selain perlindungan lahan, pemerintah daerah juga memberikan berbagai dukungan kepada petani, di antaranya bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan), pupuk, serta program pendukung sektor pertanian lainnya.

“Harapan kami kolaborasi ini tentu menjadikan pertanian di Klaten tetap terjaga,” katanya.

Regenerasi Petani hingga Ketahanan Air

Hamenang juga mengapresiasi konsistensi Festival Mbok Sri yang turut membawa semangat untuk mengembalikan kejayaan Rojolele sebagai salah satu identitas pertanian Klaten.

Menurutnya, pelestarian pertanian juga harus dibarengi dengan upaya regenerasi petani agar sektor tersebut tetap memiliki keberlanjutan.

Di sisi lain, Hamenang menyoroti persoalan krisis air yang mulai menjadi tantangan di sejumlah wilayah Indonesia. Menurutnya, Kabupaten Klaten masih memiliki potensi sumber air dan sistem irigasi yang perlu dijaga bersama.

“Klaten patut disyukuri dan tentu bagaimana potensi airnya ini yang harus dijaga bersama-sama,” pungkasnya.