Lagu Suket Teki Kembali Disorot, Momen Kader PDIP Solo Nyanyikan Lirik Sindiran Kini Dikaitkan dengan Gibran

**SOLO, KLATENTV.COM** – Sebuah video lama yang memperlihatkan kader PDI Perjuangan (PDIP) di Kota Solo menyanyikan lagu *Suket Teki* milik Didi Kempot kembali menarik perhatian publik.

Dalam video yang terjadi pada November 2023 tersebut, para kader PDIP tampak menyanyikan lagu secara bersama-sama. Momen itu dipimpin langsung oleh Ketua DPC PDIP Kota Solo saat itu, FX Hadi Rudyatmo atau yang akrab disapa FX Rudy.

Lagu berbahasa Jawa tersebut belakangan kembali menjadi bahan perbincangan karena liriknya dinilai memiliki makna sindiran yang dianggap relevan dengan dinamika politik saat ini, khususnya yang berkaitan dengan Gibran Rakabuming Raka.

Salah satu penggalan lirik yang paling menyita perhatian berbunyi:

*Wong salah ora gelem ngaku salah*

*Suwe-suwe sopo wonge sing betah*

*Mripatku uwis ngerti sak nyatane*

*Kowe selak golek menangmu dewe*

*Tak tandur pari jebul tukule malah suket teki.*

Jika diterjemahkan secara bebas, lirik tersebut menggambarkan seseorang yang dianggap tidak mau mengakui kesalahan, terus mencari pembenaran, hingga akhirnya kenyataan tidak sesuai dengan harapan.

Bagian paling menarik adalah kalimat *”Tak tandur pari jebul tukule malah suket teki”*, yang secara harfiah berarti menanam padi, tetapi yang tumbuh justru rumput teki.

Ungkapan tersebut kerap dimaknai sebagai kekecewaan terhadap hasil yang tidak sesuai dengan harapan.

Munculnya kembali video tersebut memancing tafsir politik di tengah hubungan dan dinamika PDIP dengan Gibran yang selama ini menjadi perhatian publik.

Tak sedikit yang menghubungkan lirik lagu tersebut dengan perjalanan politik Gibran, terutama setelah dinamika politik yang mengiringi pencalonannya sebagai wakil presiden pada 2023.

Meski demikian, belum ada konfirmasi bahwa lagu tersebut memang dimaksudkan sebagai sindiran khusus kepada Gibran. Momen November 2023 itu juga tidak bisa serta-merta dianggap sebagai respons terhadap perkembangan politik yang terjadi setelahnya.

Kini, lagu *Suket Teki* seolah kembali menemukan konteks baru. Sebuah lagu campursari yang sederhana, tetapi liriknya memiliki ruang tafsir yang luas ketika dibawa ke panggung politik. apalagi dnegan munculnya putusan MA yang membatalkan Suket ijazah gibran.

**Menurut kalian, apakah lirik Suket Teki ini masih relevan dengan situasi politik Indonesia sekarang?**