KLATEN, KLATENTV.COM – Di tengah gemericik air dan suasana khidmat, warga Dukuh Kroman, Desa Mranggen, Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten, kembali menghidupkan tradisi Dawetan. Bukan sekadar ritual budaya, kegiatan tahunan ini menjadi wujud rasa syukur sekaligus pengingat pentingnya menjaga sumber mata air yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Tradisi tersebut digelar pada Minggu (1/11/2026) di kawasan Umbul Kroman. Warga mengikuti rangkaian acara yang diawali dengan kirab budaya dari perkampungan menuju sumber mata air yang berjarak sekitar 200 meter.
Dalam kirab tersebut, masyarakat membawa berbagai uba rampe berupa hasil bumi dan dawet. Sejumlah penari bertugas sebagai cucuk lampah yang mengiringi perjalanan rombongan menuju umbul.
Sesampainya di lokasi, prosesi dilanjutkan dengan pertunjukan tari di sekitar kolam alami. Seorang perempuan kemudian turun ke dalam kolam sambil membawa wadah gerabah berisi dawet.
Di tengah suasana yang khidmat, tokoh masyarakat memimpin doa. Dua penari turut tampil di tengah kolam sebagai simbolisasi Kiai dan Nyai Mardani, sosok yang dalam kepercayaan masyarakat setempat diyakini sebagai penjaga Umbul Kroman.
Menurut kepercayaan warga, kedua tokoh tersebut akan murka apabila sumber mata air dirusak, dicemari, atau diganggu oleh tangan-tangan jahil.
Prosesi berlangsung dengan khusyuk. Warga yang memadati tepian kolam menjaga suasana tetap tenang. Lantunan kidung tradisional berpadu dengan suara gemericik air menjadi pengiring ritual tersebut.
Usai doa, wadah gerabah berisi dawet diserahkan kepada tokoh masyarakat. Selanjutnya, dawet dibawa menuju tepian kolam, tepat di kawasan gelembung air yang terus muncul dari dalam tanah.
Rangkaian prosesi sakral kemudian ditutup dengan kegiatan menikmati dawet bersama. Warga juga melakukan penanaman pohon beringin di sekitar kolam sebagai bagian dari upaya menjaga kelestarian lingkungan.
Kegiatan dilanjutkan dengan makan bersama dan menikmati sajian dawet yang disediakan warga secara gotong royong.
Warisan Tradisi untuk Menjaga Sumber Air
Ketua RW 013 Dukuh Kroman, Mujiono, mengatakan tradisi Dawetan telah berlangsung sejak lama dan terus dipertahankan oleh masyarakat setempat.
Menurutnya, kegiatan tersebut berawal dari kebiasaan warga yang secara swadaya membersihkan kawasan Umbul Kroman. Sebagai penutup kegiatan bersih-bersih, masyarakat kemudian menyediakan hidangan dawet untuk dinikmati bersama.
Kepala Desa Mranggen, Sutarman, menjelaskan Dawetan merupakan bentuk ungkapan rasa syukur atas melimpahnya sumber air yang menjadi penopang kehidupan masyarakat.
Selain menjaga kelestarian mata air, tradisi tersebut juga menjadi sarana memperkenalkan potensi wisata dan kekayaan budaya Desa Mranggen.
Ia menyebut pelestarian sumber air di wilayah Mranggen tidak hanya dilakukan melalui tradisi Dawetan di Umbul Kroman. Masyarakat juga memiliki tradisi Nawu Sendang yang rutin dilaksanakan di Umbul Gotan.
“Jadi, dari hulu sampai hilir itu semuanya ada rangkaian kegiatan gelar budaya yang ada di Mranggen. Harapan kami pariwisata yang lebih maju lagi,” ungkap Sutarman.
Sutarman menambahkan, setiap sumber mata air di Desa Mranggen memiliki karakteristik dan keunikan masing-masing.
Umbul Gotan, misalnya, selama ini dikenal masyarakat tidak hanya sebagai sumber pengairan pertanian. Airnya juga dipercaya secara turun-temurun memiliki manfaat untuk membantu penyembuhan, terutama pada luka terbuka.
“Contohnya kalau ada luka-luka baru di sana,” jelasnya.
Sementara itu, Umbul Kroman yang dikelilingi tebing dan pepohonan hijau dikenal masyarakat sebagai salah satu lokasi terapi kesehatan, termasuk bagi warga yang mengalami gangguan pascastroke.
“Kalau untuk terapi-terapi orang stroke dan sebagainya di sini [Umbul Kroman],” ungkap Sutarman.
Camat Jatinom, Agus Sunyata, mengapresiasi konsistensi masyarakat dalam menjaga sumber mata air sekaligus mempertahankan kesenian dan tradisi lokal.
Ia berharap kegiatan seperti Dawetan dapat terus dilestarikan karena memiliki nilai lebih dari sekadar warisan budaya. Tradisi tersebut juga menjadi ruang kebersamaan yang memperkuat kerukunan warga, meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan, serta membuka peluang pengembangan pariwisata lokal.
Melalui tradisi Dawetan, masyarakat Dukuh Kroman menunjukkan bahwa menjaga mata air bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga bagian dari merawat identitas, kebersamaan, dan warisan budaya yang diwariskan antargenerasi.











