Manisrenggo, Klatentv.com – Gunungan hasil bumi diarak keliling kampung, doa dipanjatkan, kemudian warga berebut membawa pulang hasil pertanian yang telah disusun dalam gunungan. Pemandangan tersebut mewarnai peringatan Merti Dusun Warurangkang ke-4 di RW 06, Dukuh Warurangkang, Desa Sapen, Kecamatan Manisrenggo, Kabupaten Klaten, Senin (17/8/2026).

Tradisi Merti Dusun tahun ini digelar bersamaan dengan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Rangkaian kegiatan diawali dengan upacara bendera yang diikuti seratusan lebih warga, kemudian dilanjutkan kirab gunungan hasil bumi dan pertanian. maalam sebelumnya, warga juga menggelar malam tirakatan dan doa bersama untuk keselamatan dan kesejahteraan warga serta melimpahnya hasil pertanian.
Kirab menjadi salah satu bagian yang paling dinantikan. Gunungan berisi hasil bumi warga diarak menyusuri lingkungan dusun sebagai simbol rasa syukur atas hasil pertanian dan pategalan yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Warurangkang.
Setelah kirab selesai, gunungan didoakan bersama. Warga kemudian berebut hasil bumi untuk dibawa pulang. Bagi masyarakat setempat, tradisi tersebut bukan sekadar kemeriahan, tetapi memiliki pesan tentang rasa syukur, kebersamaan dan penghormatan terhadap tradisi leluhur.
Ketua Panitia Merti Dusun Warurangkang, Sutarno, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk ungkapan syukur kepada Allah SWT atas berkah hasil bumi sekaligus upaya menjaga budaya Jawa agar tetap dikenal oleh generasi muda.
“Merti Dusun ini bukan sekadar pesta biasa. Ada rasa syukur kepada Allah SWT atas hasil bumi, kemudian nguri-uri budaya Jawa supaya tradisi leluhur tidak hilang, dan yang tidak kalah penting adalah mempererat silaturahmi serta menjaga guyub rukun warga,” jelas Sutarno.
Menurutnya, Merti Dusun Warurangkang tahun ini merupakan penyelenggaraan yang keempat. Warga berharap kegiatan tersebut dapat terus dilaksanakan dan berkembang menjadi tradisi tahunan.
Selain kirab dan Merti Dusun, rangkaian peringatan kemerdekaan juga diisi dengan penampilan kesenian. Suasana semakin meriah dengan keterlibatan anak-anak, pemuda hingga warga dari berbagai generasi.
Digelar Swadaya Warga
Ketua RW 06 Warurangkang, Sri Yunanto, mengatakan seluruh rangkaian kegiatan diselenggarakan secara mandiri dengan semangat gotong royong.
“Seluruh kegiatan ini murni dari urunan dan swadaya warga RW 06 Warurangkang. Ini menjadi bentuk kecintaan kami kepada NKRI melalui upacara 17 Agustus, sekaligus kepedulian terhadap lingkungan melalui Merti Dusun,” ujarnya.
Ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh warga, donatur dan pelaku UMKM yang ikut mendukung kegiatan tersebut.
Sejumlah donatur yang disebut turut memberikan dukungan di antaranya Joko Masudi dari Bogor, Woro Triastuti, Sutarno, Winanto, serta Surojo dari Prambanan, bersama para pelaku UMKM dan warga RW 06 Warurangkang.
Sri Yunanto berharap kegiatan tersebut dapat terus digelar setiap tahun. Menurutnya, antusiasme warga, khususnya generasi muda, menjadi modal penting untuk mempertahankan tradisi tersebut.
Generasi Muda Didorong Terlibat
Semangat pelestarian tradisi juga mendapat perhatian dari sesepuh warga Warurangkang, Parwoto. Ia menilai kegiatan yang berlangsung meriah tersebut mampu menjadi ruang untuk mengenalkan nilai-nilai kebersamaan dan budaya kepada generasi muda.
“Kesan saya luar biasa dan sangat meriah. Suasana seperti ini mampu menggugah hati masyarakat, terutama anak-anak muda. Harapannya mereka tumbuh menjadi generasi yang baik dan mampu meneruskan perjuangan serta nilai-nilai luhur dari para pendahulu dan orang tua kita,” kata Parwoto.
Ia berharap Merti Dusun tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi terus dikembangkan dan dilestarikan untuk mendukung kemajuan serta kesejahteraan masyarakat.
Sementara itu, perwakilan kepemudaan, Raditya, menekankan pentingnya kolaborasi lintas generasi. Menurutnya, generasi Baby Boomers, Milenial hingga Generasi Z perlu terus bersinergi agar kehidupan masyarakat di lingkungan tetap berjalan harmonis.
Di Balik Kemeriahan, Warga Butuh Air Bersih
Di tengah kemeriahan peringatan kemerdekaan dan Merti Dusun, warga Warurangkang juga menyampaikan persoalan yang masih menjadi kebutuhan mendesak, yakni ketersediaan air bersih.
Raditya mengatakan hingga saat ini sebagian warga masih mengandalkan sumur milik warga untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari yang dilairkan melalui program pamsimas. sementara sumur pribadi warga tercemar zat besi sehingga tidak layak konsumsi.
Warga berharap pemerintah dapat memberikan perhatian melalui pembangunan sumur baru maupun sarana penyediaan air bersih agar kebutuhan dasar masyarakat dapat terpenuhi secara lebih merata.
Pesan tersebut menjadi catatan penting di tengah semangat gotong royong yang ditunjukkan masyarakat Warurangkang. Bagi warga, menjaga tradisi dan memperingati kemerdekaan penting dilakukan, namun kebutuhan dasar masyarakat juga perlu mendapat perhatian.
Rangkaian kegiatan akhirnya menjadi gambaran kuat tentang kehidupan masyarakat pedesaan: merawat tradisi, mensyukuri hasil bumi, memperkuat persaudaraan, sekaligus menyuarakan kebutuhan lingkungan.
Melalui Merti Dusun yang telah memasuki tahun keempat, warga Warurangkang berharap semangat gotong royong tidak hanya menjadi bagian dari perayaan, tetapi terus hidup dalam kehidupan sehari-hari dan diwariskan kepada generasi berikutnya.











