KLATEN – Kisah politik dan penculikan yang terjadi pada abad ke-9 Masehi diangkat ke panggung pertunjukan melalui Sendratari Dyah Bhumijaya dalam Wisnu Sakti Cultural Fest 2026. Pementasan berlangsung di Pura Wisnu Sakti, Desa Tambakan, Kecamatan Jogonalan, Klaten, Sabtu (17/10/2026) malam.
Sendratari tersebut mengangkat kisah yang bersumber dari Prasasti Watantija bertanggal 10 Desember 880 Masehi. Pertunjukan ini menjadi salah satu upaya mengenalkan sejarah Mataram Kuno kepada masyarakat melalui pendekatan seni budaya.
Penggagas cerita sekaligus panitia Wisnu Sakti Cultural Fest 2026, Nur Kotimah, mengatakan festival tersebut memiliki keunikan karena menjadikan data prasasti sebagai landasan penciptaan sendratari.
“Wisnu Sakti adalah pelopor utama di DIY dan Jateng yang menampilkan sendratari menggunakan data prasasti masa Mataram Kuno, sehingga selain tontonan juga bisa menjadi tuntunan dalam eksplorasi budaya Mataram Kuno,” ujarnya.
Mengangkat Kisah Dyah Bhumijaya
Dalam cerita yang dipentaskan, Dyah Bhumijaya merupakan putra Sri Maharaja Rakai Kayuwangi Pu Dyah Lokapala dengan seorang selir bernama Rakryan Manak.
Ia juga tercatat sebagai cucu Sri Maharaja Rakai Pikatan Dyah Seladu dan Maharatu Dyah Pramodawardhani.
Kisah tersebut mengangkat peristiwa penculikan Dyah Bhumijaya dan Rakryan Manak oleh Rakryan Landayan. Dalam rangkaian cerita, Rakryan Manak melakukan maturun apuy di Desa Tangar, sementara Rakryan Landayan kemudian dibunuh di Wana Taas.
Dyah Bhumijaya selanjutnya melarikan diri hingga Desa Watantija.
Nur Kotimah mengungkapkan, proses penggarapan sendratari membutuhkan ketelitian karena kisah Dyah Bhumijaya belum banyak dikenal masyarakat.
Mulai dari penelusuran data sejarah, konsep musik, kostum, hingga penyesuaian karakter penari harus melalui proses seleksi agar cerita yang disampaikan tetap sesuai dengan sumber sejarah.
Melibatkan Sekitar 150 Penari Lokal
Sendratari Dyah Bhumijaya pertama kali diperkenalkan kepada publik pada 2019 di Situs Ratu Boko. Pementasan ini kemudian terus dikembangkan melalui kolaborasi Sankha Heritage Art dan Pasraman Wisnu Sakti.
Penggarapan ide cerita dilakukan Nur Kotimah, dengan Supriyadi sebagai penata musik. Sementara penataan tari melibatkan Sri Maryuni, Afizki Arif Ridwan, dan Fitri.
Produksi juga melibatkan sejumlah seniman dan pelajar dalam berbagai bidang, mulai dari penari, penata busana, penata rias hingga narator.
Persiapan Wisnu Sakti Cultural Fest 2026 sendiri telah dilakukan sejak Januari. Sekitar 150 penari terlibat dalam rangkaian kegiatan tersebut, dengan mayoritas pelaku seni berasal dari Klaten.
Ke depan, penyelenggara menargetkan pengembangan karya tersebut ke dalam produksi film bertema Mataram Kuno.
“Targetnya adalah pembuatan film dengan tema Mataram Kuno,” kata Nur Kotimah.
Melalui pertunjukan ini, sejarah yang selama berabad-abad tersimpan dalam prasasti dihadirkan kembali melalui seni pertunjukan. Harapannya, kisah masa lalu Mataram Kuno tidak hanya dikenal sebagai catatan sejarah, tetapi juga menjadi bagian dari pengetahuan budaya generasi muda.










